Free Download Novel Dilan Karya Pidi Baiq Pdf - Unduh Gratis - FREE DOWNLOAD - NOVEL Dilan (Dia adalah Dilanku Tahun 1999)
Unduh di sini
Selamat membaca! :)
Gunakan dengan baik ya dan ambil hikmah positif dari kisah Dilan dan Milea
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Thursday, 23 March 2017
Thursday, 30 June 2016
Kumpulan Puisi Pilihan Lomba Baca Puisi FLS2N 2016
Kumpulan Puisi Pilihan | Lomba Baca Puisi | FLS2N 2016
D. Zawawi Imron
SUNGAI KECIL
sungai kecil, sungai kecil!
di manakah engkau telah kulihat?
antara cirebon dan purwokerto
ataukah hanya dalam mimpi?
di atasmu batu-batu kecil
sekeras rinduku dan
di tepimu daun-daun
bergoyang menaburkan sesuatu
yang kuminta dalam doaku
sungai kecil, sungai kecil!
terangkanlah kepadaku,
di manakah negeri asalmu?
di atasmu akan kupasang
jembatan bambu
agar para petani mudah melintasimu
akan kubersihkan lubukmu agar
para perampok yang mandi
merasakan juga sejuk airmu
sungai kecil, sungai kecil!
mengalirlah terus ke rongga jantungku
dan kalau kau payah,
istirahatlah ke dalam tidurku!
kau yang jelita kutembangkan
buat kasihku.
Asrul Sani
SURAT DARI IBU
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi
menyinar daun-daunan
dalam rimba padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang,
dan warna senja
belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!
Sanusi Pane
TERATAI
Kepada Ki Hadjar Dewantara
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai;
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak terlihat orang yang lalu.
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang
Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.
Teruslah, o Teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman.
Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun angkat tidak diminat,
Engkau pun turut menjaga Zaman.
Leon Agusta
ORANG-ORANG HUKUMAN SETELAH SENJA
Sepi itu kembali hinggap ke bumi
Sepi yang berlanjut
Ke pusat larut
Sementara itu
awan-awan merah menggamit
dalam gigil bendungan pemusnah,
hingga debu-debu terakhir
menghilang di kegelapan
Marapatkan daun pintu
Denyut jemu kemerdekaan
mengetuk-ngetuk tembok
Beserpihan di bawah palu
teror demi teror
Menggemakan maha sayupnya utopia
Berlatarkan nyanyian Eros dan nostalgia
yang tertekan;
sedang engkau yang datang pun
Tak menembus jaringan yang menjerat
nafas terputus-putus
Orang-orang hukuman setelah senja
Membaca mengatas aksara
Menulis hidup jelaga
Di dasar sepinya sendiri
Atas segala janji: Dimungkiri
Sapardi Djoko Damono
DALAM DOAKU
dalam doaku subuh ini kau menjelma
langit yang semalaman
tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan
menerima suara-suara
ketika matahari mengambang tenang
di atas kepala,
dalam doaku
kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan
pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari
mana
dalam doaku sore ini kau menjelma
seekor burung gereja
yang mengibas-ngibaskan bulunya
dalam gerimis,
yang hinggap di ranting
dan menggugurkan bulu-bulu bunga
jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu
hinggap di dahan mangga itu
magrib ini dalam doaku kau menjelma
angin yang turun sangat
pelahan dari nun di sana,
yang bersijingkat di jalan kecil
itu menyusup di celah-celah jendela
dan pintu dan
menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi
dan bulu-bulu mataku
Eka Budianta
AKU MUTIARA BANGSA INDONESIA
Aku anak Indonesia sejati
Berdarah laut berjiwa matahari
Aku pemilik garis khatulistiwa
Dilahirkan pertiwi
untuk hidup merdeka
Angin gunung
adalah nafas perdamaianku
Bersama para petani di desa
Aku mengolah bumi kelahiranku
Bersama nelayan-nelayan perkasa
Aku menggarap gelombang hidupku
Pembela hutan dan samudera,
adalah aku
Pelindung tumbuhan dan aneka satwa
Adalah aku,
adalah aku mutiara bangsaku
Sejarah akan mencatat cintaku padamu,
Ibu
Ketika hujan menyuburkan daerah
perkebunan
Ketika rembulan berlinang menyiram
kota-kota
Aku bersamadi bersama segenap
bangsaku
“Tuhan, beri kami otot dan semangat
menyala
Untuk membangun negeri kurniaMu
tercinta”
Bersama segenap saudara aku
berkembang
Yang lahir di tepi danau Toba yang
besar di Tondano
Yang mekar di Padang-padang Nusa
Tenggara
Yang menyusu di rimba Irian dan
Kalimantan
Saudaraku semua saudaraku semua
Aku adalah anak Indonesia sejati
Berdarah laut berjiwa matahari
Menyinarkan kemanusiaan dan cahaya
Ilahi
Memancarkan persatuan dan demokrasi
Bekerja tanpa pamrih untuk pertiwi
Adalah aku, adalah aku mutiara bangsa
ini
Kekayaan alam yang dilimpahkan
Tuhan
Bakat-bakat yang dianugrahkan padaku
Keberanian dan cita-cita warisan nenek
moyang
Adalah pusaka hidupku, adalah
pendorongku
Dunia akan paham mengapa aku
bangga
Menjadi anak sejati Indonesia
Jutaan saudaraku akan bangkit
membuktikan
Kelahiran kami di sini tidak sia-sia
Bersama anggrek Vanda sumatrana,
Bersama ikan-ikan arwana dan burungburung
langka
Kami memperindah kehidupan umat
manusia
Mensyukuri berkah Tuhan dengan
bekerja
Mewujudkan kebanggaan Indonesia
dengan segala daya
Aku adalah mutiara bangsa Indonesia
Sinarku lembut tapi kuat dan pasti
Aku akan mati tersenyum sebagai anak
Indonesia
Mutiara bangsa Indonesia, anak
Indonesia sejati !
Tuhan yang menciptakan seni dan bumi
air dan udara dan api,
menciptakan semua kita yang ada,
selalu hormat dan cinta padamu,
langit dan dedaunan gemelepar,
bulan dan bintang hidup dan berhikmat
selalu
bagimu dan bagimu dan bagimu.
Sebanyak daunan lampu digantung di
dahan pohonan
untuk meriahkan istana yang asing dan
tetap asing bagimu,
meja bangkit dan kemewahan dibuka
berbatasan dengan lingkaran dunia
yang pahit, duniamu.
Bulan dan bintang yang setia dan tetap
setia padamu,
Meredupkan lampu-lampu yang banyak
dusta dan penipuan.
Namamu tergores di setiap rangka
tulang bangunan dan keuntungan,
Kendatipun tidak dicanangkan malahan
dilupakan.
Kaulah sebenarnya yang lahirkan
kemerdekaan,
tanpa idamkan taman dan tugu
kemerdekaan,
Kaulah sebenarnya yang bangkitkan
pembebasan,
tanpa kucup kenikmatan dan
kemegahan pembebasan.
Butir padi, garam dan perlindungan,
Ladang, daratan, air dan kekuatan,
adalah kepunyaan dan kelahiranmu.
Warisanmu adalah sungai, tanaman,
warisanmu adalah tiap tegukan dan
santapan.
Ramadhan K.H.
NYANYIAN YANG DILUPAKAN
Kau adalah kapten barisan yang selalu
ada di depan,
Untuk kemerdekaan dan kemanusiaan
Kau adalah pertahanan utama yang
selalu pantang menyerah,
untuk pembebasan dan keagungan.
Pahlawan kemerdekaan, kaulah satusatunya
pahlawan kemerdekaan
dan tiada yang lain yang lebih patut
pakaikan mahkota kemerdekaan.
Pejuang perdamaian, kaulah satusatunya
pejuang perdamaian
dan tiada yang lain yang lebih patut
kenakan bintang perdamaian.
Waktu pistol pertama meletus untuk
kemerdekaan,
adalah pistol jantungmu yang
ditembakkan.
Waktu bendera pertama berkibar untuk
pembebasan,
adalah bendera semangatmu yang
diacungkan.
Waktu kurban pertama diminta untuk
keagungan,
adalah nyawamu yang pertama
dikurbankan.
Kau adalah alas dan puncak semua
pujian dan pujaan;
Sejak fajar sampai fajar jadi sasaran
penipuan dan pencekikan
Budiman S. Hartojo
KEPADA TANAH AIR
apa yang bisa kukatakan padamu
ya, tumpahan segala kerja
apalah yang bisa kuberikan padamu
wahai, cucuran darah jelata
terik surya di atas khatulistiwa
demikian keras mengisap keringatku
bumi subur yang tak terduga
terlalu kaya buat disiram air mata
tanah air yang pendiam dan rendah hati
siangmu kudengar dalam keluh kerja
tersia
malammu memeras kediaman tangis
dan dosa
adakah keluh duka ini kan terpupus
oleh kata demi kata?
di sini berkecamuk nasib dan harap
tertunda
di sini berabad terpampat derita rakyat
membaja
aku tahu, antara perbuatan, kerja dan
cinta
sudah sekian lama bangsaku
memperhitungkannya
segala lagu angin dan lambaian pucukpucuk
kelapa
deburan ombak dan kicau burung pagi
dan senja
seolah mengabarkan sebuah kerinduan
tentang kemerdekaan yang sebenarnya
hilang di angin
apalah yang lebih penting dari makna
kehidupan
dalam tuntutan segenap bangsaku yang
lapar merana
selain nafas kerinduan akan cinta
selain arti yang terwujud dalam
kebenaran arti kerja?
namun tangis anak-anak yang tak
kunjung mengerti
adalah pernyataan yang sungguh
tentang arti rizki
sementara itu bapa-bapa kita yang
terhormat bicara juga
sedang apapun yang terjadi
di mimbar atau di sini
tidak juga terpenuhi!
Toto Sudarto Bachtiar
IBU KOTA SENJA
Penghidupan sehari-hari, kehidupan
sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan
perempuan bertelanjang mandi
Di sungai kesayangan , o , kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saingmenyaingi
Udara menekan berat di atas jalan
panjang berkelokan
Gedung-gedung dan kepala mengabur
dalam senja
Mengurai dan layung–layung membara
di langit barat daya
O, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan
penderitaanmu
Aku seperti mimpi, bulan putih di
lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas
lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut
Aku tiada tahu apa- apa, di luar yang
sederhana
Nyanyian–nyanyian kesenduan yang
bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar
di pintu dinihari
Serta di keabadian mimpi–mimpi
manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam kehidupan sehari–hari ,
kehidupan sehari–hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai
kesayangan
Serta anak-anak yang berenang tertawa
tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa
Sumber-sumber murni menetap
terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan
napas lepas bebas
O, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku.
Emha Ainun Nadjib
Doa Syukur Sawah Ladang
Atas padi yang engkau tumbuhkan dari
sawah
ladang bumimu, kupanjatkan syukur
dan
kunyanyikan lagu gembira sebagaimana
padi itu
sendiri berterima kasih kepadamu dan
bersukaria
lahir dari tanah, menguning di sawah,
menjadi
beras di tampah, kemudian sebagai nasi
memasuki
tenggorokan hambamu yang gerah ,
adalah cara
paling mulia bagi padi untuk tiba
kembali di
pangkuanmu
betapa gembira hati pisang yang dikuliti
dan
dimakan oleh manusia, karena
demikianlah tugas
luhurnya di dunia, pasrah di
pengolahan usus para
hamba, menjadi sari inti kesehatan dan
kesejahteraan
demikianpun betapa riang udara yang
dihirup
air yang direguk, sungai yang mengaliri
pesawahan,
kolam tempat anak-anak berenang,
lautan penyedia
bermilyar ikan serta kandungan
bumimu yang
menyiapkan berjuta macam hiasan
atas segala tumpahan kasih sayangmu
kepadaku
ya allah, baik berupa rejeki maupun
cobaan,
kelebihan atas kekurangan ,
kudendangkan rasa
bahagia dan tekadku sebiasa-bisa untuk
membalas
cinta
aku bersembahyang kepadamu,
berjamaah
dengan langit dan bumimu, dengan
siang dan malammu,
dengan matahari yang setia bercahaya
dan
angin yang berhembus menyejukan
desa-desa
Sutan Takdir Alisjahbana
Menuju ke Laut
Angkatan Baru
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang , tiada beriak
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat :
“Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditentang diserang,
dalam bergurau bersama angin
dalam berlomba bersama mega.”
Sejak itu jiwa gelisah,
selalu berjuang, tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa penggalang,
berontak hati hendak bebas.
Gemuruh berderau kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya.
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahana suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti,
pekik dan tempik sambut menyambut.
Tetapi betapa sukarnya jalan,
badan terhempas , kepala tertumbuk,
hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiada ingin,
ketenangan lama tiada diratap.
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun,
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun,
dari mimpi yang nikmat.
W.S Rendra
SAJAK SEONGOK JAGUNG
Seongok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
sang pemuda melihat ladang :
ia melihat petani :
ia melihat panen :
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena
Sedang di dalam jagung
tungku-tungku menyala.
Didalam udara murni
tercium bau kuwe jagung.
Seongok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap mengarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja.
Tetapi hari ini :
Seongok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
tak ada uang, tak bisa menjadi
mahasiswa.
Hanya ada seongok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta,
Ia melihat dirinya ditendang dari
diskotik
Ia melihat sepasang sepatu kenes dibalik
etalase
Ia melihat saingannya naik sepeda
motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan
gagal.
Seongok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seongok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari
buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hapalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari
kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya membuat seorang menjadi
asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajar ilsafat, sastra, teknologi, ilmu
kedokteran
atau apa saja
bila akhirnya
ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata
“disini aku merasa asing dan sepi !”.
D. Zawawi Imron
SUNGAI KECIL
sungai kecil, sungai kecil!
di manakah engkau telah kulihat?
antara cirebon dan purwokerto
ataukah hanya dalam mimpi?
di atasmu batu-batu kecil
sekeras rinduku dan
di tepimu daun-daun
bergoyang menaburkan sesuatu
yang kuminta dalam doaku
sungai kecil, sungai kecil!
terangkanlah kepadaku,
di manakah negeri asalmu?
di atasmu akan kupasang
jembatan bambu
agar para petani mudah melintasimu
akan kubersihkan lubukmu agar
para perampok yang mandi
merasakan juga sejuk airmu
sungai kecil, sungai kecil!
mengalirlah terus ke rongga jantungku
dan kalau kau payah,
istirahatlah ke dalam tidurku!
kau yang jelita kutembangkan
buat kasihku.
Asrul Sani
SURAT DARI IBU
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke dunia bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi
menyinar daun-daunan
dalam rimba padang hijau
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang,
dan warna senja
belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang ke sarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku!
Sanusi Pane
TERATAI
Kepada Ki Hadjar Dewantara
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai;
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak terlihat orang yang lalu.
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang
Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.
Teruslah, o Teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman.
Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun angkat tidak diminat,
Engkau pun turut menjaga Zaman.
Leon Agusta
ORANG-ORANG HUKUMAN SETELAH SENJA
Sepi itu kembali hinggap ke bumi
Sepi yang berlanjut
Ke pusat larut
Sementara itu
awan-awan merah menggamit
dalam gigil bendungan pemusnah,
hingga debu-debu terakhir
menghilang di kegelapan
Marapatkan daun pintu
Denyut jemu kemerdekaan
mengetuk-ngetuk tembok
Beserpihan di bawah palu
teror demi teror
Menggemakan maha sayupnya utopia
Berlatarkan nyanyian Eros dan nostalgia
yang tertekan;
sedang engkau yang datang pun
Tak menembus jaringan yang menjerat
nafas terputus-putus
Orang-orang hukuman setelah senja
Membaca mengatas aksara
Menulis hidup jelaga
Di dasar sepinya sendiri
Atas segala janji: Dimungkiri
Sapardi Djoko Damono
DALAM DOAKU
dalam doaku subuh ini kau menjelma
langit yang semalaman
tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima
cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan
menerima suara-suara
ketika matahari mengambang tenang
di atas kepala,
dalam doaku
kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan
pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari
mana
dalam doaku sore ini kau menjelma
seekor burung gereja
yang mengibas-ngibaskan bulunya
dalam gerimis,
yang hinggap di ranting
dan menggugurkan bulu-bulu bunga
jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu
hinggap di dahan mangga itu
magrib ini dalam doaku kau menjelma
angin yang turun sangat
pelahan dari nun di sana,
yang bersijingkat di jalan kecil
itu menyusup di celah-celah jendela
dan pintu dan
menyentuh-nyentuhkan pipi
dan bibirnya di rambut, dahi
dan bulu-bulu mataku
Eka Budianta
AKU MUTIARA BANGSA INDONESIA
Aku anak Indonesia sejati
Berdarah laut berjiwa matahari
Aku pemilik garis khatulistiwa
Dilahirkan pertiwi
untuk hidup merdeka
Angin gunung
adalah nafas perdamaianku
Bersama para petani di desa
Aku mengolah bumi kelahiranku
Bersama nelayan-nelayan perkasa
Aku menggarap gelombang hidupku
Pembela hutan dan samudera,
adalah aku
Pelindung tumbuhan dan aneka satwa
Adalah aku,
adalah aku mutiara bangsaku
Sejarah akan mencatat cintaku padamu,
Ibu
Ketika hujan menyuburkan daerah
perkebunan
Ketika rembulan berlinang menyiram
kota-kota
Aku bersamadi bersama segenap
bangsaku
“Tuhan, beri kami otot dan semangat
menyala
Untuk membangun negeri kurniaMu
tercinta”
Bersama segenap saudara aku
berkembang
Yang lahir di tepi danau Toba yang
besar di Tondano
Yang mekar di Padang-padang Nusa
Tenggara
Yang menyusu di rimba Irian dan
Kalimantan
Saudaraku semua saudaraku semua
Aku adalah anak Indonesia sejati
Berdarah laut berjiwa matahari
Menyinarkan kemanusiaan dan cahaya
Ilahi
Memancarkan persatuan dan demokrasi
Bekerja tanpa pamrih untuk pertiwi
Adalah aku, adalah aku mutiara bangsa
ini
Kekayaan alam yang dilimpahkan
Tuhan
Bakat-bakat yang dianugrahkan padaku
Keberanian dan cita-cita warisan nenek
moyang
Adalah pusaka hidupku, adalah
pendorongku
Dunia akan paham mengapa aku
bangga
Menjadi anak sejati Indonesia
Jutaan saudaraku akan bangkit
membuktikan
Kelahiran kami di sini tidak sia-sia
Bersama anggrek Vanda sumatrana,
Bersama ikan-ikan arwana dan burungburung
langka
Kami memperindah kehidupan umat
manusia
Mensyukuri berkah Tuhan dengan
bekerja
Mewujudkan kebanggaan Indonesia
dengan segala daya
Aku adalah mutiara bangsa Indonesia
Sinarku lembut tapi kuat dan pasti
Aku akan mati tersenyum sebagai anak
Indonesia
Mutiara bangsa Indonesia, anak
Indonesia sejati !
Tuhan yang menciptakan seni dan bumi
air dan udara dan api,
menciptakan semua kita yang ada,
selalu hormat dan cinta padamu,
langit dan dedaunan gemelepar,
bulan dan bintang hidup dan berhikmat
selalu
bagimu dan bagimu dan bagimu.
Sebanyak daunan lampu digantung di
dahan pohonan
untuk meriahkan istana yang asing dan
tetap asing bagimu,
meja bangkit dan kemewahan dibuka
berbatasan dengan lingkaran dunia
yang pahit, duniamu.
Bulan dan bintang yang setia dan tetap
setia padamu,
Meredupkan lampu-lampu yang banyak
dusta dan penipuan.
Namamu tergores di setiap rangka
tulang bangunan dan keuntungan,
Kendatipun tidak dicanangkan malahan
dilupakan.
Kaulah sebenarnya yang lahirkan
kemerdekaan,
tanpa idamkan taman dan tugu
kemerdekaan,
Kaulah sebenarnya yang bangkitkan
pembebasan,
tanpa kucup kenikmatan dan
kemegahan pembebasan.
Butir padi, garam dan perlindungan,
Ladang, daratan, air dan kekuatan,
adalah kepunyaan dan kelahiranmu.
Warisanmu adalah sungai, tanaman,
warisanmu adalah tiap tegukan dan
santapan.
Ramadhan K.H.
NYANYIAN YANG DILUPAKAN
Kau adalah kapten barisan yang selalu
ada di depan,
Untuk kemerdekaan dan kemanusiaan
Kau adalah pertahanan utama yang
selalu pantang menyerah,
untuk pembebasan dan keagungan.
Pahlawan kemerdekaan, kaulah satusatunya
pahlawan kemerdekaan
dan tiada yang lain yang lebih patut
pakaikan mahkota kemerdekaan.
Pejuang perdamaian, kaulah satusatunya
pejuang perdamaian
dan tiada yang lain yang lebih patut
kenakan bintang perdamaian.
Waktu pistol pertama meletus untuk
kemerdekaan,
adalah pistol jantungmu yang
ditembakkan.
Waktu bendera pertama berkibar untuk
pembebasan,
adalah bendera semangatmu yang
diacungkan.
Waktu kurban pertama diminta untuk
keagungan,
adalah nyawamu yang pertama
dikurbankan.
Kau adalah alas dan puncak semua
pujian dan pujaan;
Sejak fajar sampai fajar jadi sasaran
penipuan dan pencekikan
Budiman S. Hartojo
KEPADA TANAH AIR
apa yang bisa kukatakan padamu
ya, tumpahan segala kerja
apalah yang bisa kuberikan padamu
wahai, cucuran darah jelata
terik surya di atas khatulistiwa
demikian keras mengisap keringatku
bumi subur yang tak terduga
terlalu kaya buat disiram air mata
tanah air yang pendiam dan rendah hati
siangmu kudengar dalam keluh kerja
tersia
malammu memeras kediaman tangis
dan dosa
adakah keluh duka ini kan terpupus
oleh kata demi kata?
di sini berkecamuk nasib dan harap
tertunda
di sini berabad terpampat derita rakyat
membaja
aku tahu, antara perbuatan, kerja dan
cinta
sudah sekian lama bangsaku
memperhitungkannya
segala lagu angin dan lambaian pucukpucuk
kelapa
deburan ombak dan kicau burung pagi
dan senja
seolah mengabarkan sebuah kerinduan
tentang kemerdekaan yang sebenarnya
hilang di angin
apalah yang lebih penting dari makna
kehidupan
dalam tuntutan segenap bangsaku yang
lapar merana
selain nafas kerinduan akan cinta
selain arti yang terwujud dalam
kebenaran arti kerja?
namun tangis anak-anak yang tak
kunjung mengerti
adalah pernyataan yang sungguh
tentang arti rizki
sementara itu bapa-bapa kita yang
terhormat bicara juga
sedang apapun yang terjadi
di mimbar atau di sini
tidak juga terpenuhi!
Toto Sudarto Bachtiar
IBU KOTA SENJA
Penghidupan sehari-hari, kehidupan
sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan
perempuan bertelanjang mandi
Di sungai kesayangan , o , kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saingmenyaingi
Udara menekan berat di atas jalan
panjang berkelokan
Gedung-gedung dan kepala mengabur
dalam senja
Mengurai dan layung–layung membara
di langit barat daya
O, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan
penderitaanmu
Aku seperti mimpi, bulan putih di
lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas
lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut
Aku tiada tahu apa- apa, di luar yang
sederhana
Nyanyian–nyanyian kesenduan yang
bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar
di pintu dinihari
Serta di keabadian mimpi–mimpi
manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam kehidupan sehari–hari ,
kehidupan sehari–hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai
kesayangan
Serta anak-anak yang berenang tertawa
tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa
Sumber-sumber murni menetap
terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan
napas lepas bebas
O, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku.
Emha Ainun Nadjib
Doa Syukur Sawah Ladang
Atas padi yang engkau tumbuhkan dari
sawah
ladang bumimu, kupanjatkan syukur
dan
kunyanyikan lagu gembira sebagaimana
padi itu
sendiri berterima kasih kepadamu dan
bersukaria
lahir dari tanah, menguning di sawah,
menjadi
beras di tampah, kemudian sebagai nasi
memasuki
tenggorokan hambamu yang gerah ,
adalah cara
paling mulia bagi padi untuk tiba
kembali di
pangkuanmu
betapa gembira hati pisang yang dikuliti
dan
dimakan oleh manusia, karena
demikianlah tugas
luhurnya di dunia, pasrah di
pengolahan usus para
hamba, menjadi sari inti kesehatan dan
kesejahteraan
demikianpun betapa riang udara yang
dihirup
air yang direguk, sungai yang mengaliri
pesawahan,
kolam tempat anak-anak berenang,
lautan penyedia
bermilyar ikan serta kandungan
bumimu yang
menyiapkan berjuta macam hiasan
atas segala tumpahan kasih sayangmu
kepadaku
ya allah, baik berupa rejeki maupun
cobaan,
kelebihan atas kekurangan ,
kudendangkan rasa
bahagia dan tekadku sebiasa-bisa untuk
membalas
cinta
aku bersembahyang kepadamu,
berjamaah
dengan langit dan bumimu, dengan
siang dan malammu,
dengan matahari yang setia bercahaya
dan
angin yang berhembus menyejukan
desa-desa
Sutan Takdir Alisjahbana
Menuju ke Laut
Angkatan Baru
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang , tiada beriak
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat :
“Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditentang diserang,
dalam bergurau bersama angin
dalam berlomba bersama mega.”
Sejak itu jiwa gelisah,
selalu berjuang, tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa penggalang,
berontak hati hendak bebas.
Gemuruh berderau kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya.
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahana suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti,
pekik dan tempik sambut menyambut.
Tetapi betapa sukarnya jalan,
badan terhempas , kepala tertumbuk,
hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiada ingin,
ketenangan lama tiada diratap.
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun,
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun,
dari mimpi yang nikmat.
W.S Rendra
SAJAK SEONGOK JAGUNG
Seongok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu
sang pemuda melihat ladang :
ia melihat petani :
ia melihat panen :
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena
Sedang di dalam jagung
tungku-tungku menyala.
Didalam udara murni
tercium bau kuwe jagung.
Seongok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap mengarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja.
Tetapi hari ini :
Seongok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
tak ada uang, tak bisa menjadi
mahasiswa.
Hanya ada seongok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta,
Ia melihat dirinya ditendang dari
diskotik
Ia melihat sepasang sepatu kenes dibalik
etalase
Ia melihat saingannya naik sepeda
motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan
gagal.
Seongok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seongok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari
buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hapalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari
kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya membuat seorang menjadi
asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajar ilsafat, sastra, teknologi, ilmu
kedokteran
atau apa saja
bila akhirnya
ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata
“disini aku merasa asing dan sepi !”.
Tuesday, 21 June 2016
Cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku
Sepotong Senja Untuk Pacarku | Cerpen Seno Gumira Ajidarma | Cerita tentang Senja | Cerita Pendek | Cerpen Pilihan Kompas
SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU
Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina,
dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina. Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala. Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu. Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu. Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana. Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos. Alina sayang, Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku. “Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!” Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas. “Catat nomernya! Catat nomernya!” Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa. Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan. “Senja! Senja! Cuma seribu tiga!” Di jalan tol mobilku melaju masukkota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi. Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan. “Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…” Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah. Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina. Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka. Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku. “Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman. Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku. “Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.” Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina. Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama. Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina. “semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?” Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja…. Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih. Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon. Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh… Alina kekasihku, pacarku, wanitaku. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos. Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu. Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya. Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. –Cerpen Pililihan Kompas 1993
SEPOTONG SENJA UNTUK PACARKU
Alina tercinta, Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina,
dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina. Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina. Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala. Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu. Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu. Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana. Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos. Alina sayang, Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku. “Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!” Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas. “Catat nomernya! Catat nomernya!” Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa. Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan. “Senja! Senja! Cuma seribu tiga!” Di jalan tol mobilku melaju masukkota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi. Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan. “Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…” Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah. Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina. Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka. Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku. “Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman. Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku. “Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.” Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian. Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina. Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama. Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina. “semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?” Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja…. Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih. Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon. Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh… Alina kekasihku, pacarku, wanitaku. Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos. Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu. Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya. Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi. Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. –Cerpen Pililihan Kompas 1993
Manfaat Membaca
Membaca, baik itu membaca buku, koran, majalah, dan lain sebagainya sangat mengandung banyak manfaat. Menurut ’Aidh bin Abdullah al-Qarn direpost dari Facebook Fanspage Penulis Darwis TereLiye, ada 11 manfaat membaca. Apa saja 11 manfaat itu??
1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
4. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan orang-orang berilmu.
8. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi didalam hidup.
9. Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku-buku yang bermanfaat, terutama buku-buku yang ditulis oleh penulis-penulis yang baik. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
10. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
11. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
1. Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
2. Ketika sibuk membaca, sesorang terhalang masuk dalam kebodohan.
3. Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
4. Dengan sering membaca, seseorang bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
5. Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
6. Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
7. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengambil manfaat dari pengalama orang lain, seperti mencontoh kearifan orang bijaksanan dan kecerdasan orang-orang berilmu.
8. Dengan sering membaca, seseorang dapat mengembangkan kemampuannya baik untuk mendapat dan merespon ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari disiplin ilmu dan aplikasi didalam hidup.
9. Keyakinan seseorang akan bertambah ketika dia membaca buku-buku yang bermanfaat, terutama buku-buku yang ditulis oleh penulis-penulis yang baik. Buku itu adalah penyampai ceramah terbaik dan ia mempunyai pengaruh kuat untuk menuntun seseorang menuju kebaikan dan menjauhkan dari kejahatan.
10. Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia.
11. Dengan sering membaca, seseorang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat, lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat).
Nah, banyak sekali kan manfaat membaca. Sering-seringlah membaca, ya teman, terutama membaca tulisan-tulisan di blog ini (hehe promosi ya ;)
Friday, 3 June 2016
Kumpulan Puisi dan Kata-kata Sapardi Djoko Damono
Kumpulan Puisi dan Kata-kata Sapardi Djoko Damono | Kata-kata | Quote | Sajak-sajak Pilihan Sapardi Djoko Damono | Puisi-puisi di Hujan Bulan Juni | Puisi-puisi di Buku Perahu Kertas
Sajak-sajak dalam Buku PERAHU KERTAS dan HUJAN BULAN JUNI
Pertapa
Jangan mengganggu: aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah
gua, atau sebutir telur, atau sepatah kata — ah, apa pula
bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar,
sudah merupakan benih, sudah mencapai makna — masih
beranikah kau menyapaku, Saudara?
Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
Tuan
Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.
Telinga
“Masuklah ke telingaku,” bujuknya.
Gila:
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci — setiap kata, setiap huruf,
bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
“Masuklah,” bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-
baiknya apa pun yang dibisikkannya
kepada diri sendiri.
Tajam Hujanmu
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu: payung terbuka yang ber-
goyang-goyang di tangan kananku, air yang menetes dari ping
gir-pinggir payung itu, aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya, dua-tiga patah kata yang meng-
ganjal di tenggorokan
deras dinginmu
:
sembilu hujanmu
Di Tangan Anak-anak
Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”
Akulah Si Telaga
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan
bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja – perahumu
biar aku yang menjaganya
Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan,
dan selokan – swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu
dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh
di pohon, jalan, dan selokan –
menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
Seruling
Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya, me-
nutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan pangeran dan
putri dari kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdu-
nya ….
Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa me-
nganga.
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau
layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu
bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki
tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar
warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-
kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-
mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit.”
Cara Membunuh Burung
bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk
bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita
belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau
setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting
pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering
ingin sendirian
soalnya ia baka
Gonggong Anjing
untuk Rizki
gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur lalu merayapi
pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah me-
nyusup lewat celah-celah genting bergema dalam kamar demi
kamar tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
“siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?” tanya sunyi
Peristiwa Pagi Tadi
kepada GM
Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor
tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang
sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, mem-
bentur aspal, lalu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang
terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu
diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah
jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai
di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa
itu.
Di Atas Batu
ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah
kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana
ke mari
ia pandang sekeliling: matahari yang hilang - timbul di sela
goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali,
beberapa ekor capung –
ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini
Hatiku Selembar Daun
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi
Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…
ANGIN, 1
angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke
sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar
suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei
siapa ini yang mendadak di depanku?”
angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh
lagi
— sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di
tengah bising-bising ini tanpa Hawa
ANGIN, 2
Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar
semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.
AKU INGIN
\
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
ANGIN, 3
“Seandainya aku bukan ……
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut
kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
“Seandainya aku . . . ., .”
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang
perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
“Seandainya ……
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di
belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
kami yang harus berjalan di depan
BUNGA, 1
(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak
terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku
ini si bunga rumput, pilihan dewata!”
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi,
dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua
itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm
dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
hutan terbakar dan setelah api ….
Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para
manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!”
BUNGA, 2
mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya — tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam
BUNGA, 3
seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat
ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di
empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika
terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah
membawa pergi jasadku?”
HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(1989)
DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya
(1980)
Tiba-Tiba Malam pun risik
tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka
Percakapan Malam Hujan
Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik.
Katanya kepada lampu jalan,
“Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”
“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;
asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur.
Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”
[Hujan Bulan Juni, 1973]
Bunga-Bunga di Halaman
mawar dan bunga rumput
di halaman: gadis yang kecil
(dunia kecil, jari begitu
kecil) menudingnya…
mengapakah perempuan suka menangis
bagai kelopak mawar; sedang
rumput liar semakin hijau suaranya
di bawah sepatu-sepatu…
mengapakah pelupuk mawar selalu
berkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembut
hampir mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)…
[1968]
Kisah
Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu…
Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi…
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi…
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu…
la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu..
Quote (Kata-kata Pilihan)
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
― Sapardi Djoko Damono
“Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“The day will come
When my body no longer exists
But in the lines of this poem
I will never let you be alone
The day will come
When my voice is no longer heard
But within the words of this poem
I will continue to watch over you
The day will come
When my dreams are no longer known
But in the spaces found in the letters of this poem
I will never tired of looking for you”
― Sapardi Djoko Damono
“Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”
― Sapardi Djoko Damono
“Sajak kecil tentang cinta
Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...
MencintaiMu harus menjadi aku”
― Sapardi Djoko Damono
“barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“Kita berdua saja duduk,
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput,
Kau entah memesan apa,
Aku memesan batu ditengah sungai terjal yang deras,
Kau entah memesan apa,
Tapi kita berdua saja duduk,”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“Dalam Doaku
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu..
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
(1989)”
― Sapardi Djoko Damono
“Apa yang kau tangkap dari suara hujan
Dari daun-daun bugenvil yang teratur mengetuk jendel.
Apakah yang kau tangkap dari bau tanah
Dari ricik air yang turun di selokan”
― Sapardi Djoko Damono
“I want to love you simply, in words not spoken: tinder to the flame which transforms it to ash
I want to love you simply, in signs not expressed: clouds to the rain which make them evanescent (Aku Ingin-I Want)”
― Sapardi Djoko Damono
“Secangkir kopi yang dengan tenang menunggu kau minum itu tidak pernah mengusut kenapa kau bisa membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kau hirup ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada secangkir kopi yang tersedia di atas meja setiap pagi”
― Sapardi Djoko Damono
“SEMENTRA KITA SALING BERBISIK
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angla
Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.
(1966)”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“JARAK
dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit; kosong sepi”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“DI RESTORAN
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu ditengah sungai terjal yang deras --
kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.
(1989)”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“Waktu berjalan ke Barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang.
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan.
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang,
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.”
― Sapardi Djoko Damono
“Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas materai dan tidak boleh digugat kalau nanti terjadi apa-apa, baik atau buruk.”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni: Novel
“...bahwa kasih sayang mengungguli segalanya menembus apa pun yang tidak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan tidak akan bisa dicapai tidak bisa dibincangkan dengan teori metode dan pendekatan apa pun...”
― Sapardi Djoko Damono
“Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang.”
― Sapardi Djoko Damono
Sajak-sajak dalam Buku PERAHU KERTAS dan HUJAN BULAN JUNI
Pertapa
Jangan mengganggu: aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah
gua, atau sebutir telur, atau sepatah kata — ah, apa pula
bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar,
sudah merupakan benih, sudah mencapai makna — masih
beranikah kau menyapaku, Saudara?
Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
Tuan
Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.
Telinga
“Masuklah ke telingaku,” bujuknya.
Gila:
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci — setiap kata, setiap huruf,
bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.
“Masuklah,” bujuknya.
Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-
baiknya apa pun yang dibisikkannya
kepada diri sendiri.
Tajam Hujanmu
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu: payung terbuka yang ber-
goyang-goyang di tangan kananku, air yang menetes dari ping
gir-pinggir payung itu, aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya, dua-tiga patah kata yang meng-
ganjal di tenggorokan
deras dinginmu
:
sembilu hujanmu
Di Tangan Anak-anak
Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad
yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung
yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;
di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”
Akulah Si Telaga
akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan
bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja – perahumu
biar aku yang menjaganya
Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan,
dan selokan – swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu
dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh
di pohon, jalan, dan selokan –
menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
Seruling
Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya, me-
nutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan pangeran dan
putri dari kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdu-
nya ….
Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa me-
nganga.
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau
layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu
bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki
tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar
warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-
kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-
mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit.”
Cara Membunuh Burung
bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk
bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita
belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau
setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting
pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering
ingin sendirian
soalnya ia baka
Gonggong Anjing
untuk Rizki
gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur lalu merayapi
pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah me-
nyusup lewat celah-celah genting bergema dalam kamar demi
kamar tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
“siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?” tanya sunyi
Peristiwa Pagi Tadi
kepada GM
Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor
tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.
Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang
sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, mem-
bentur aspal, lalu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.
Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang
terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu
diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah
jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai
di rumah sakit.
Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa
itu.
Di Atas Batu
ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah
kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana
ke mari
ia pandang sekeliling: matahari yang hilang - timbul di sela
goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali,
beberapa ekor capung –
ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini
Hatiku Selembar Daun
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi
Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…
Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi…
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati…
Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi…
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari…
angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke
sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar
suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, “hei
siapa ini yang mendadak di depanku?”
angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita
untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh
lagi
— sampai pagi tadi:
ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di
tengah bising-bising ini tanpa Hawa
ANGIN, 2
Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar
semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.
AKU INGIN
\
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
ANGIN, 3
“Seandainya aku bukan ……
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut
kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.
“Seandainya aku . . . ., .”
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang
perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.
“Seandainya ……
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di
belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
kami yang harus berjalan di depan
BUNGA, 1
(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padang waktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketika nampak sekawanan gagak
terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, “Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku
ini si bunga rumput, pilihan dewata!”
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-sela geraham batu-batu gua pada suatu pagi,
dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua
itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm
dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan
hutan terbakar dan setelah api ….
Teriaknya, “Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para
manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!”
BUNGA, 2
mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya — tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam
BUNGA, 3
seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat
ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di
empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika
terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema “hai, siapa gerangan yang telah
membawa pergi jasadku?”
HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(1989)
DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya
(1980)
Tiba-Tiba Malam pun risik
tiba-tiba malam pun risik
beribu Bisik
tiba-tiba engkau pun lengkap menerima
satu-satunya Duka
Percakapan Malam Hujan
Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik.
Katanya kepada lampu jalan,
“Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”
“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;
asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur.
Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”
[Hujan Bulan Juni, 1973]
Bunga-Bunga di Halaman
mawar dan bunga rumput
di halaman: gadis yang kecil
(dunia kecil, jari begitu
kecil) menudingnya…
mengapakah perempuan suka menangis
bagai kelopak mawar; sedang
rumput liar semakin hijau suaranya
di bawah sepatu-sepatu…
mengapakah pelupuk mawar selalu
berkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembut
hampir mencapainya (wahai, meriap rumput di tubuh kita)…
[1968]
Kisah
Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu…
Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi…
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi…
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu…
la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu..
Quote (Kata-kata Pilihan)
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
― Sapardi Djoko Damono
“Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“The day will come
When my body no longer exists
But in the lines of this poem
I will never let you be alone
The day will come
When my voice is no longer heard
But within the words of this poem
I will continue to watch over you
The day will come
When my dreams are no longer known
But in the spaces found in the letters of this poem
I will never tired of looking for you”
― Sapardi Djoko Damono
“Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”
― Sapardi Djoko Damono
“Sajak kecil tentang cinta
Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...
MencintaiMu harus menjadi aku”
― Sapardi Djoko Damono
“barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“Kita berdua saja duduk,
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput,
Kau entah memesan apa,
Aku memesan batu ditengah sungai terjal yang deras,
Kau entah memesan apa,
Tapi kita berdua saja duduk,”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“Dalam Doaku
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu..
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
(1989)”
― Sapardi Djoko Damono
“Apa yang kau tangkap dari suara hujan
Dari daun-daun bugenvil yang teratur mengetuk jendel.
Apakah yang kau tangkap dari bau tanah
Dari ricik air yang turun di selokan”
― Sapardi Djoko Damono
“I want to love you simply, in words not spoken: tinder to the flame which transforms it to ash
I want to love you simply, in signs not expressed: clouds to the rain which make them evanescent (Aku Ingin-I Want)”
― Sapardi Djoko Damono
“Secangkir kopi yang dengan tenang menunggu kau minum itu tidak pernah mengusut kenapa kau bisa membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kau hirup ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada secangkir kopi yang tersedia di atas meja setiap pagi”
― Sapardi Djoko Damono
“SEMENTRA KITA SALING BERBISIK
Sementara kita saling berbisik
Untuk lebih lama tinggal
Pada debu, cinta yang tinggal berupa
Bunga kertas dan lintasan angka-angla
Ketika kita saling berbisik
Di luar semakin sengit malam hari
Memadamkan bekas-bekas telapak kaki, menyekap sisa-sisa unggun api
Sebelum fajar. Ada yang masih bersikeras abadi.
(1966)”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“JARAK
dan Adam turun di hutan-hutan
mengabur dalam dongengan
dan kita tiba-tiba di sini
tengadah ke langit; kosong sepi”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“DI RESTORAN
Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
ilalang panjang dan bunga rumput --
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu ditengah sungai terjal yang deras --
kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.
(1989)”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni
“Waktu berjalan ke Barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang.
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan.
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang,
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.”
― Sapardi Djoko Damono
“Nasib memang diserahkan kepada manusia untuk digarap, tetapi takdir harus ditandatangani di atas materai dan tidak boleh digugat kalau nanti terjadi apa-apa, baik atau buruk.”
― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni: Novel
“...bahwa kasih sayang mengungguli segalanya menembus apa pun yang tidak bisa dipahami oleh pengertian pinggir jalan tidak akan bisa dicapai tidak bisa dibincangkan dengan teori metode dan pendekatan apa pun...”
― Sapardi Djoko Damono
“Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang.”
― Sapardi Djoko Damono
Thursday, 26 May 2016
Para Pemenang #Puitwit MIWF & Twitter 2016
Minggu kemarin telah diadakan 'Perayaan Pemuja Kata' yang bernama Makassar International Writer Festival tahun 2016 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Acara diadakan pada tanggal 18-21 Mei 2016, lebih tepatnya bertempat di Hotel Fort Rotterdam. Dalam acara MIWF, hadir beberapa penulis seperti Ika Natassa, Aan Mansyur (Penulis puisi Batas di Film AADC2 yang sedang booming saat ini), Dewi Lestari, dan berbagai seniman lainnya. Antusiasme para penulis dan pembaca begitu meriah sekali dalam acara ini.
Monday, 9 May 2016
Kumpulan Sajak Tere Liye
Kumpulan Sajak Darwis Tere Liye | Sajak-sajak Puitis | Motivasi | Persahabatan | Cinta | Nilai-nilai Kehidupan
*Sajak "Embun & Perasaan"
Kenapa embun itu indah,
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun
Kenapa purnama itu elok,
Karena bulan balas menatap di angkasa
Sekali dia bergerak, tidak ada lagu purnama
*Sajak "Embun & Perasaan"
Kenapa embun itu indah,
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun
Kenapa purnama itu elok,
Karena bulan balas menatap di angkasa
Sekali dia bergerak, tidak ada lagu purnama
Tuesday, 26 April 2016
Kumpulan Cerpen Pemenang PERHUTANI GREEN PEN AWARD 2014
Kumpulan Cerpen Pemenang PERHUTANI GREEN PEN AWARD 2014
Elegi untuk Pong - Khoiriyyah Azzahro
Gemerlap Lubang-lubang Gelap - Amelia Nuraisyah Quinsi Jemy
Sepasang Mata di Balik Kayu - Safira
Nyanyian Meranti Merah - Sulfiza Ariska
Elegi untuk Pong - Khoiriyyah Azzahro
Gemerlap Lubang-lubang Gelap - Amelia Nuraisyah Quinsi Jemy
Sepasang Mata di Balik Kayu - Safira
Nyanyian Meranti Merah - Sulfiza Ariska
Friday, 22 April 2016
Cerita 3 Dokter Cantik Hatinya
Cerita 3 Dokter Cantik Hatinya - Kisah Inspiratif dan Menarik - Cerita Inspiratif oleh Darwis Tere Liye
Ada 3 dokter muda, wanita, berteman baik, yang barusaja mengucapkan sumpah dokternya. Kalian tahu isi sumpah dokter? Itu keren sekali, amat indah. Saya akuntan, tapi sy tetap terharu membacanya, bahkan baru kalimat2 awalnya saja, membaca sumpah dokter ini membuat sy amat menghargai profesi ini.
Ada 3 dokter muda, wanita, berteman baik, yang barusaja mengucapkan sumpah dokternya. Kalian tahu isi sumpah dokter? Itu keren sekali, amat indah. Saya akuntan, tapi sy tetap terharu membacanya, bahkan baru kalimat2 awalnya saja, membaca sumpah dokter ini membuat sy amat menghargai profesi ini.
Monday, 18 April 2016
KUMPULAN PUISI MAIBELOPAH
KUMPULAN PUISI MAIBELOPAH
Puisi dari www.maibelopah.tumblr.com
KEMARIN
aku baru sadar, begitu banyak kemarin dalam kenangan.
yang terindah dari kemarin adalah ketika senja, aku mendengarmu bicara, ummi, guruku yang kucinta, tentang sejajarnya ketakwaan dengan keberkahan, tentang sebandingnya keimanan dengan kasih sayang Tuhan.
Puisi dari www.maibelopah.tumblr.com
KEMARIN
aku baru sadar, begitu banyak kemarin dalam kenangan.
yang terindah dari kemarin adalah ketika senja, aku mendengarmu bicara, ummi, guruku yang kucinta, tentang sejajarnya ketakwaan dengan keberkahan, tentang sebandingnya keimanan dengan kasih sayang Tuhan.
Kumpulan Puisi Dalam Film Ada Apa Dengan Cinta
Kumpulan Puisi Dalam Film Ada Apa Dengan Cinta
Ada Apa Dengan Cinta 2002
1. Oleh: Rako Prijanto
Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Ada Apa Dengan Cinta 2002
1. Oleh: Rako Prijanto
Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
Monday, 11 April 2016
Download Novel Perahu Kertas by Dee Lestari
Download Novel Perahu Kertas by Dee Lestari - Dewi Lestari - In Cinema 2012
Judul buku: Perahu Kertas
Penulis: Dewi Lestari “Dee”
ISBN: 978-979-1227-78-0
Judul buku: Perahu Kertas
Penulis: Dewi Lestari “Dee”
ISBN: 978-979-1227-78-0
Friday, 8 April 2016
Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis
Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis - Ada sebuah kerajaan, kerajaan itu bernama Baitul Maqdis. kerajaan Baitul Maqdis dipimpin oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana yang bernama Sulaiman. Raja Sulaiman sangat bijaksana, beliau adalah seorang Nabi dan Rasul Allah, beliau juga dapat mengerti bahasa hewan.
Materi Cerpen & Download Powerpoint tentang Cerpen
Kumpulan Materi tentang Cerpen lengkap beserta download powerpoint dan mindmap (bagan ringkasan) - CERPEN
Pengertian Cerpen
Cerita pendek atau cerpen adalah satu bentuk karya sastra yang ceritannya hanya menceritakan satu peristiwa dari seluruh kehidupan pelakunya.
Pengertian Cerpen
Cerita pendek atau cerpen adalah satu bentuk karya sastra yang ceritannya hanya menceritakan satu peristiwa dari seluruh kehidupan pelakunya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
